Inilah,Proses Pernikahan Adat Sunda Beserta Syarat dan Pelaksanaanya!
Sunda merupakan kelompok sosial yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, dengan istilah Tatar Pasundan karena mencakup sebagian besar wilayah administrator provinsi Jawa Barat, Banten, bahkan Jakarta dan sebagian wilayah barat Jawa Tengah yang mencakup.
Tradisi budaya Jawa Barat yang unik masih bisa kita lihat dalam prosesi pernikahan adat Sunda. Pernikahan adat Sunda juga termasuk prosesi pernikahan yang paling sering digunakan oleh masyarakat.Dalam rangkaian acaranya, prosesi pernikahan adat Sunda tidak hanya dijalankan pada hari H pernikahan saja, namun juga beberapa hari hingga seminggu sebelum hari pernikah Setiap prosesinya ini juga memiliki makna dan arti filosofis yang mendalam.
Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Sunda Sebelum Hari H

Prosesi pernikahan adat Sunda dimulai dari beberapa hari sebelum hari H pernikahan di mana mempelai akan melakukan lamaran dan meminta izin restu untuk menikah kepada pihak keluarga masing-masing. Berikut adalah rangkaian prosesi pernikahannya:
1. Neundeun Omong/Menyimpan janji
Prosesi pernikahan adat Sunda pertama disebut Neundeun Omong atau menyimpan janji atau ucapan.Prosesi ini dilakukan untuk memastikan sang calon pengantin wanita belum menerima lamaran dari orang lain.Kedua orang tua dari pihak pria akan menghampiri kedua orang tua dari pihak wanita untuk menanyakan hal ini. Ritual ini sebenarnya lebih sering dilakukan pada pernikahan zaman dahulu sebab pada zaman itu banyak anak yang belum tahu akan dinikahkan padahal sudah terjadi kesepakatan antara kedua pihak orang tua.
2. Narosan Atau Nyeureuhan/Lamaran
Untuk menindaklanjuti Neundeun Omong, prosesi lamaran pun dilakukan. Pada prosesi pernikahan adat Sunda ini, pihak keluarga calon mempelai pria menyerahkan Sirih lengkap beserta uang pengikat sebagai isyarat bahwa pihak pria bersedia ikut membiayai pernikahan. Selain itu, pihak calon pengantin pria juga memberikan cincin meneng atau cincin belah rotan sebagai tanda ikatan.
3. Nyandakeun/Seserahan
Prosesi selanjutnya adalah Nyandakeun atau seserahan di mana pihak calon mempelai pria menyerahkan beberapa perlengkapan untuk pernikahan seperti uang, pakaian, perabotan rumah tangga, makanan, dan lain sebagainya.Begitu pula pihak calon mempelai wanita membalas dengan seserahan yang diberikan pada pihak laki-laki. Prosesi seserahan pada pernikahan adat Sunda biasa dilakukan tujuh sampai satu hari sebelum hari pernikahan.
4. Ngeuyeuk Seureuh
Prosesi Ngeuyeuk Seureuh dipimpin oleh Pengeuyeuk. Pengeuyeuk mempersilahkan kedua calon pengantin meminta izin dan doa restu dari orang tua diiringi lagu kidung oleh Pengeuyeuk.Calon pengantin akan disawer beras yang bermakna hidup sejahtera. Lalu dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat, kain putih penutup Pengeuyeuk pun dibuka. Kemudian pembelahan mayang jambe dan buah pinang oleh calon mempelai pria. Prosesi ini akan diakhiri dengan menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali oleh calon mempelai pria.
5. Membuat Lungkun
Ngeuyeuk Seureuh biasa dilakukan sehari sebelum acara pernikahan. Prosesi ini hanya boleh dihadiri oleh orang tua kedua calon mempelai dan keluarga dekat saja.Kedua mempelai dihadapkan dua lembar sirih bertangkai yang kemudian digulung menjadi satu memanjang.
Setelah itu, diikat dengan benang kanteh, lalu diikuti kedua orang tua dan tamu undangan. Prosesi pernikahan adat Sunda ini memiliki makna agar kelak jika mendapat rezeki yang berlebihan bisa dibagi kepada sanak saudara.
6. Berebut Uang
Kemudian dilanjutkan dengan prosesi Berebut Uang. Tata cara prosesi pernikahan adat Sunda yang satu ini dilaksanakan di bawah tikar sambil disawer. Maknanya berlomba-lomba dalam mencari rejeki dan disayang keluarga.
Ngebakan Atau Siraman Pernikahan Adat Sunda
Menjelang hari pernikahan, prosesi siraman pun dilakukan. Prosesi ini bertujuan agar menyucikan calon mempelai wanita secara lahir dan batin. Biasanya acara berlangsung siang hari di kediaman calon mempelai wanita.
1. Ngecakeun Aisan
Upacara ini biasanya dilakukan sehari acara resepsi dan diselenggarakan di kediaman calon pengantin perempuan. Upacara ini menjadi simbol lepasnya tanggung jawab kedua orang tua pada calon pengantin.
2. Ngaras
Merupakan permohonan izin calon mempelai wanita yang dilanjutkan dengan sungkem serta mencuci kaki kedua orang tua.
3. Pencampuran Air Siraman
Kemudian kedua orang tua mencampur air yang berasal dari tujuh macam bunga wangi atau disebut dengan bunga setaman.
4. Siraman
Upacara siraman yakni memandikan calon pengantin perempuan dengan air yang telah dicampur dengan air bunga tujuh rupa (7 macam bunga wangi). Maksud dari upacara siraman adalah sebagai simbol bahwa untuk menuju sebuah mahligai rumah tangga yang suci harus pula diawali dengan tubuh serta niat yang suci juga.
5. Ngerik Atau Potong Rambut
Selanjutnya calon mempelai wanita akan dipotong rambutnya sedikit oleh kedua orang tuanya sebagai lambang untuk memperindah diri secara lahir maupun secara batin dan diteruskan dengan ngeningan (dikerik dan dirias), yakni menghilangkan semua bulu-bulu halus pada bagian sekitan wajah, bulu kuduk, dan sebagainya. Sambil menunggu calon mempelai dirias, para tamu menikmati acara rebutan hahampangan dan beubeutian. Juga dilakukan acara pembagian air siraman atau istilahnya Rebutan Parawantén.
Kemudian biasanya akan diadakan juga pemotongan tumpeng oleh kedua orangtua calon mempelai wanita dengan menyuapi sang anak masing-masing sebanyak tiga kali. Hingga kemudian kedua orang tua menanam potongan rambut calon mempelai wanita di tempat yang telah ditentukan.
Prosesi Pernikahan Adat Sunda Pada Hari H
Prosesi pernikahan adat Sunda pada hari puncak memiliki rangkaian prosesi yang paling banyak. Rangkaian acara ini dilakukan untuk membawa kesan kebahagiaan dan keabadian untuk kedua mempelai.
1. Penjemputan Calon Pengantin Pria
Utusan dari pihak mempelai wanita menjemput calon mempelai pria.
2. Ngabageakeun
Sesampainya di tempat acara pernikahan, calon mempelai pria disambut dengan ibu dari calon mempelai wanita dengan mengalungkan bunga melati. Kemudian, calon mempelai wanita berjalan menuju pelaminan diapit oleh kedua orang tua.
3. Akad Nikah
Prosesi Ngabageakeun menjadi penutup rangkaian prosesi pra-nikah, sekarang saatnya melangsungkan akad nikah untuk meresmikan hubungan kedua pasangan.Kini, akad nikah tak harus dilakukan di rumah maupun tempat ibadah, akad nikah juga banyak diselenggarakan di tempat resepsi pernikahan.
4. Sungkeman
Setelah akad berjalan dengan lancar, kedua mempelai pun melakukan sungkeman kepada kedua orang tua untuk meminta maaf akan kesalahan-kesalahan
5. Saweran
Dengan posisi duduk di kursi sambil dipayungi, upacara penyaweran pun dilakukan pada pengantin. Orang tua memberikan nasehat diiringi kidung. Pemberian nasehat diiringi pelemparan uang logam, beras, kunyit yang diiris tipis-tipis, dan permen. Uang logam dan beras melambangkan kemakmuran, kunyit sebagai simbol kejayaan, sedangkan permen melambangkan manisnya kehidupan berumah tangga.
Baca Juga. Cara nabung untuk nikah gaji kecil
6. Meuleum Harupat/Membakar Harupat
Prosesi pernikahan adat Sunda dilanjutkan dengan upacara Meuleum Harupat. Mempelai wanita membakar batang harupat yang dipegang mempelai pria dengan lilin sampai menyala.Sesudah itu, batang harupat dimasukkan ke dalam kendi berisi air yang dipegang mempelai wanita. Batang harupat diangkat kembali dan dipatahkan lalu dibuang.
Prosesi ini memiliki makna bahwa kedua mempelai diharapkan senantiasa memecahkan persoalan rumah tangga bersama-sama.Istri yang memegang kendi berisi air menggambarkan peran istri yang berperan mendinginkan setiap persoalan yang membebani hati dan pikiran suami.
7. Nincak Endog/Menginjak Telur
Berikutnya, prosesi yang satu ini juga dilakukan dalam prosesi pernikahan adat Jawa, yaitu Nincak Endog. Mempelai pria menginjak telur hingga pecah, kemudian sang istri akan membersihkan kaki sang suami.
8. Ngaleupas Japati/Melepas Merpati
Susunan acara pernikahan adat Sunda setelah Nincak Endog adalah melepas burung merpati putih yang dilakukan oleh orang tua.Ritual melepas merpati pada adat Sunda ini berarti orang tua melepas tanggung jawab karena kedua pasangan sekarang sudah mampu hidup mandiri.
9. Muka Panto/Buka Pintu
Tradisi pernikahan adat Sunda belum berhenti sampai situ, Toppers. Masih ada tradisi muka panto atau buka pintu.Diawali dengan mengetuk pintu tiga kali, lalu dilakukan sahut-sahutan pantun dari luar dan dalam pintu rumah. Biasanya mempelai berada di luar pintu, sementara mempelai wanita di dalam.
10. Huap Lingkup
Yaitu prosesi disaat calon kedua pasangan mempelai disuapi oleh kedua orang tuanya. Dimulai oleh para ibunnya kemudian akan yang dilanjutkan oleh kedua Ayahnya.Setelah itu, kedua mempelai akan saling menyuapi melalui bahu masing masing, tersedia tujuh bulatan nasi ketan kuning (punar) diatas piring. Kemudian satu bulatan terakhir, dibelah dua dan disuapkan kepada kedua pasangan. Prosesi ini menjadi simbolis suapan terakhir dari orang tua karena setelah berkeluarga, kedua anak mereka harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka dan juga menandakan bahwa kasih sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu itu sama besarnya.
Baca Juga. Tips menikah muda
11. Pabetot Bakakak Hayam
Pabetot Bakakak atau dalam bahasa indonesianya menarik ayam bakar yaitu kedua calon suami istri duduk saling berhadapan sambil memegang kedua paha ayam bakakak dengan tangan kanan di atas meja, kemudian pemandu acara akan memberi aba–aba, dan kemudian bakakak akan ditarik hingga terbelah dua. Yang mendapat bagian paling besar, harus membagi dengan pasangannya dengan cara digigit bersama-sama. Ini menjadi simbolis berapapun rezeki yang akan didapat nantinya, harus dibagi dua dan dinikmati bersama.
Baca juga. Tips sebelum menikah
Berikut Ini Adalah Pakaian Pernikahan Adat Sunda

Tidak bisa dipungkiri bahwa pakaian adat Sunda telah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia karena kerap kali dikenakan oleh artis-artis ibu kota. Hal ini bukanlah suatu hal yang mengherankan sebab beberapa artis mengenakan pakaian adat Sunda dalam acara pernikahan dan disiarkan di acara TV nasional. Nah, sekarang giliran pakaian pernikahan Sunda yang akan kita bahas hingga tuntas. Dalam adat Sunda dikenal memiliki empat jenis pakaian pengantin, yaitu Sunda Siger, Sunda Putri, Santana Inden Kedaton, dan Sukapura. Jenis tersebut telah disesuaikan dengan daerah tempat prosesi pernikahan diselenggarakan.
Untuk pakaian Sunda Putri, ciri khas yang paling tampak ialah tatanan rambut Puspasari yang unik karena sanggulnya berbentuk simetris, tetapi tidak menggunakan jenis sanggul tempel. Dengan demikian, rambut pengantin akan digulung secara melingkar, lalu dihias dengan menggunakan rangkaian bunga melati yang menjuntai hingga ke dada. Tak lupa perhiasan kembang goyang, tiara, dan ceduk mantul turut disematkan supaya mempelai perempuan tampak lebih menawan. Adapun Sunda Siger, mempelai perempuan menggunakan mahkota di atas kepala yang disebut dengan siger. Aura ratu akan terlihat pada mempelai perempuan yang mengenakan siger. Hal ini dapat terjadi karena mahkota ini memang digunakan untuk menunjukkan kejayaan dari kerajaan Sunda di masa lampau.
Baca Juga. Umur yang pas untuk menikah
Kemudian ada Sukapura yang digunakan di dalam pernikahan di daerah Tasikmalaya dan sekiktarnya. Pada setelan sukapura, pihak laki-laki tidak menggunakan mahkota karena apabila meruntut pada sejarah yang telah ada. Dahulu, tidak ditemukan kerajaan yang memiliki kekuasaan di daerah tersebut, yang ada hanyalah kaum bangsawan. Ciri khas setelan Sukapura terletak pada sanggul priangan yang dikenakan serta godek pengantin yang tidak dibiarkan melingkar keluar tetapi diarahkan menuju ke dalam. Setelan terakhir yaitu Santana Inden Kedaton yang merupakan sebuah replikasi dari busana bangsawan dari kerajaan Galuh. Ciri khas dari Santana Inden ialah warna ungu atau bungur yang dihias menggunakan payet manik keemasan.
Kesan kejayaan makin bertambah dengan digunakannya Siger Ratu Haur Kuning dan ronce melati yang dibiarkan menjuntai hingga ke pinggang. Pilihan sikap dari Kerajaan Galuh yang menolak adanya dominasi dari kerajaan Jawa dapat dilihat dari busananya yang mengenakan kebaya khas Sunda dan tidak mengenakan kebaya kartini.Meski demikian, secara umum pakaian pernikahan dengan menggunakan adat Sunda bisa dikenali dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pakaian Pengantin Adat Sunda Laki-Laki

Baju yang dikenakan oleh laki-laki Sunda adalah Jas Buka Prangwedana yang memiliki warna senada dengan pakaian dari mempelai perempuan. Bagi mempelai laki-laki, Jas Prangwedana dapay melambangkan kejantanan dan juga kewibawaan. Sebagai bawahan, para mempelai laki-laki mengenakan kain batik yang disarungkan hingga ke bagian bawah kaki. Kain batik yang dipilih yaitu sido mukti atau lereng eneng prada. Pemilihan kedua batik ini bukan tanpa makna.
Dalam budaya Sunda, kedua motif batik ini melambangkan harapan masa depan yang lebih baik serta penuh dengan kebahagiaan apabila dibandingkan keadaan sebelum menikah. Perlengkapan lainnya yang wajib digunakan oleh para mempelai laki-laki Sunda ialah Bendo yang memiliki fungsi sebagai penutup kepala. Bendo dihiasi dengan menggunakan batu permata di bagian tengah. Tidak lupa ditambahkan keris yang menjadi lambang atas kejantanan seorang laki-laki sekaligus boro sarangka yang memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan keris.
2. Pakaian Pengantin Adat Sunda Perempuan
Busana yang dikenakan oleh para putri dari kerajaan Sunda di masa lalu menjadi inspirasi bagi pakaian adat pengantin untuk perempuan Sunda. Atasannya menggunakan kebaya dengan bahan brokat yang meiliki warna beragam seperti krem, kuning, atau putih. Bawahannya sama dengan mempelai laki-laki, yaitu kain batik sido mukti atau lereng eneng prada. Kebaya serta kain batik tersebut diselaraskan dengan berbagai macam perhiasan seperti cincin permata, kelat bahu, kalung pendek dan panjang, serta gelang permata. Perlengkapan lain yang tidak kalah penting ialah penggunaan siger sebagai mahkota kepala yang mempunyai makna sebagai harapan akan kebijaksanaan, rasa hormat, dan juga kearifan dalam kehidupan pernikahan. Siger Sunda yang terbuat dari campuran logam dengan berat berkisar dari 1,5kg hingga 2kg ini berbeda dengan Siger Lampung.
Ronce melati akan menjadi penghias dari sanggul itu. Ronce melati menjuntai ke arah bawah hingga menuju ke dada dan pinggul perempuan. Makna dari ronce melati ini sebagai lambang atas kemurnian dan kesucian yang dimiliki oleh seorang perempuan Sunda. Ronce melati ini terdiri dari beberapa bagian yang meliputi Melati Mangle Pasung, Mangle Sisir, Mangle Susun, Mayangsari, dan Penetep. Terakhir, pada kening mempelai perempuan biasanya akan terdapat daun sirih yang dibentuk menyerupai wajik. Daun sirih ini memiliki arti harapan supaya pengantin dijauhkan dari bala dan malapetaka. Berikut ini adalah urutan atau susunan acara pernikahan adat sunda yang di laksanakan oleh warga tanah sunda yang berasal kebanyakan di Jawa Barat simak dan baca susunan acara pernikahan adat sunda di Paket wedding murah Jakarta.
